Miris, Banyak Mahasiswa Ditahan di Mapolda Tanpa Pendampingan Hukum

Ananda Bdudu menangis saat memberi keterangan soal rekan-rekan mahasiswa yang dutahan di Mapolda

JAKARTA, – Musisi dan eks wartawan Tempo, Ananda Badudu telah dipulangkan oleh penyidik Reserse Mobile (Resmob) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya setelah menjalani pemeriksaan sebagai saksi.

Saat keluar dari ruang penyidik, Ananda mengaku pembebasan dirinya merupakan hal yang istimewa yang didapatnya dalam bentuk jaminan hukum yang tidak dapat dinikmati segelintir orang.

“Saya salah satu orang yang beruntung punya privilege untuk bisa segera dibebaskan,” ucap Ananda Badudu kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jumat siang (27/9).

Saat di dalam ruang penyidik, Ananda mengaku sedih karena banyak mahasiswa yang diperiksa tanpa adanya pendampingan.

“Di dalam saya lihat banyak sekali mahasiswa yang diproses tanpa pendampingan, diproses dengan cara-cara tidak etis. Mereka butuh pertolongan lebih dari saya,” pungkas Ananda sambil menahan tangis.

Peneliti Institute for Criminal and Justice Reform (ICJR), Erasmus Napitupulu, mengaku kesulitan memberi pendampingan bagi mahasiswa yang masih ditahan di Mapolda Metro Jaya. Pihaknya mengaku kesulitan mendapatkan akses.

“Ini agak dilema ya tapi memang dari kemarin kita agak kesulitan melakukan pendampingan,” ucap Erasmus di Mapolda Metro Jaya, Jumat 27 September 2019.

Bahkan dia menyebut ada mahasiswa yang ditahan tapi belum dapat pendampingan kuasa hukumnya. Ia menilai harusnya mereka diberikan pendampingan. Dia menyesalkan hal tersebut.

“Karena kemudian ada beberapa mahasiswa yang diancam dengan pidana di atas 5 tahun, seharusnya bantuan hukumnya diberikan oleh Kepolisian. Tapi kami dari teman-teman dari masyarakat sipil yang mendampingi sebenarnya agak susah masuk,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, pada Senin 23 September 2019 lalu aksi demonstrasi para mahasiswa yang menolak RUU KPK, RUU KUHP terjadi di daerah-daerah, salah satunya di Jakarta. Sekelompok massa mahasiswa yang berunjuk rasa di depan gedung DPR/MPR, sempat bertahan meski hari sudah gelap. Mereka menunggu rekan mereka yang tengah beraudiensi dengan perwakilan anggota DPR.

Bahkan mereka mulai nekat memanjat pagar gedung DPR, terus bernyanyi dan berteriak memaksa diizinkan masuk ke gedung Parlemen. Situasi sempat rusuh saat terjadi aksi lempar-melempar di dekat pintu masuk kompleks MPR/DPR Senayan dan blokir jalan tol sebelum kondisi bisa dikendalikan.

Kemudian, gelombang aksi mahasiswa turun jalan mahasiswa berlanjut pada Selasa kemarin, 24 September 2019 setelah sebelumnya mereka juga melakukan aksi pada Senin 23 September 2019. Aksi bukan hanya dilakukan di daerah, tapi juga di Ibu Kota. Di Ibu Kota aksi mahasiswa digelar di depan Gedung DPR/MPR.

Akibat aksi ini, Jalan Tol Dalam Kota Cawang-Tomang sempat ditutup. Namun pada malam harinya aksi berubah jadi keributan. Sejumlah fasilitas negara dirusak dan dibakar. Termasuk pos lantas Slipi, pos lantas depan Kemenpora dan pos polisi Pal Merah. Ada juga bus dan jeep milik TNI yang dibakar. (Viva/CM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *